Di balik jendela dalam kamarku,
Aku teringat saat bersamamu,
Senja dengan keindahannya itu,
Kini hanya bayang mengganggu.
Di antara ingatan yang menyala,
Rindu ini takkan pernah pudar,
Kau pergi membawa perasaan,
Kini aku dilanda rasa bersalah.
Bersalahku terus menjepit,
Setiap malam aku tersadar,
Mengapa aku tak menghargai,
Cintamu yang jujur, kini sirna.
Oh, wanita yang telah aku sia-siakan,
Hati ini tak pernah bisa menghentikan,
Dalam setiap diam, kau menghantui,
Rasa bersalah ini takkan pergi.
Di balik jendela dalam kamarku,
Kau hadir dalam setiap lagu,
Semua kenangan mengalun sepi,
Mengingatkanku pada cinta yang mati.
Di malam sunyi aku termenung,
Mengapa cinta itu tak ku peluk,
Kini semua hanya jadi kenangan,
Di balik jendela, aku merindukan.
Bersalahku terus menjepit,
Setiap malam aku tersadar,
Mengapa aku tak menghargai,
Cintamu yang jujur, kini sirna.
Oh, wanita yang telah aku sia-siakan,
Hati ini tak pernah bisa menghentikan,
Dalam setiap diam, kau menghantui,
Rasa bersalah ini takkan pergi.
Oh, wanita yang telah aku sia-siakan,
Hati ini tak pernah bisa menghentikan,
Dalam setiap diam, kau menghantui,
Rasa bersalah ini takkan pergi.
Oh, wanita yang telah aku sia-siakan,
Hati ini tak pernah bisa menghentikan,
Dalam setiap diam, kau menghantui,
Rasa bersalah ini takkan pergi.
Oh, wanita yang telah aku sia-siakan,
Hati ini tak pernah bisa menghentikan,
Dalam setiap diam, kau menghantui,
Rasa bersalah ini takkan pergi.