Yo, di dalam cermin aku lihat dua wajah,
Satu tersenyum, yang lain sembunyikan resah.
Bagai bayangan yang berpisah di dua arah,
Aku hidup dalam dunia yang terus pecah.
Aku bagai buku dengan dua cerita,
Halaman pertama terang, yang kedua gelap tak terbaca.
Bagai malam yang menyimpan fajar di dada,
Satu sisi hidup, sisi lain hampir tiada.
Aku peluk dunia, tapi dunia menjauh,
Bagai kapal karam, satu sisi mencoba bertaut.
Kepribadian ini seperti langit berawan,
Kadang biru cerah, kadang hitam menahan hujan.
Aku adalah dua jiwa dalam satu raga,
Berjalan di dua dunia yang berbeda arah.
Kadang aku bintang, kadang aku gelap malam,
Kepribadian ganda, siapa aku yang sekarang?
Satu sisi aku bagai mentari pagi,
Memberi hangat, tapi cepat tenggelam di sore hari.
Sisi lain aku bagai bulan di langit sepi,
Diam tanpa suara, memeluk gelap yang abadi.
Aku adalah teka-teki tanpa kunci,
Mencari jawaban tapi terjebak dalam ilusi.
Bagai pohon tumbuh di dua tanah,
Akarnya terpisah, tapi batangnya tak pernah lelah.
Aku adalah dua jiwa dalam satu raga,
Berjalan di dua dunia yang berbeda arah.
Kadang aku bintang, kadang aku gelap malam,
Kepribadian ganda, siapa aku yang sekarang?
Yo, aku bagai topeng yang berganti di setiap panggung,
Satu penuh tawa, yang lain tangis tersandung.
Aku bagai badai yang tenang di permukaan,
Di dalam, ribuan gelombang saling menghantam.
Kepribadian ini adalah simfoni yang sumbang,
Nada-nadanya bertabrakan, tak pernah tenang.
Aku ingin menjadi satu, tapi terbelah,
Dua jiwa ini terus bertarung tanpa arah.
Aku adalah dua sisi koin yang dilempar,
Berputar di udara, tak tahu di mana akan mendarat.
Kepribadian ganda, ini kisahku yang kelam,
Siapa aku? Pertanyaan itu terus menghantam.