\"Tetangga Mulut Berlian\"
Di pagi hari, burung pun berkicau,
Tetangga sebelah mulai menggosip ria.
Katanya ini, katanya itu,
Padahal hidupnya juga penuh tipu.
Mereka sibuk urusi hidupku,
Padahal dompetku tak minta bantu.
Setiap langkah, selalu dipantau,
Duh, lelah aku, tapi aku santai saja, tahu?
Mulut berlian, bicara tak sembarang,
Semua diatur, mereka yang pegang.
Jangan khawatir, hidupmu pasti tenang,
Asal mereka puas, oh, kita diam.
Kulkas baruku pun jadi bahan berita,
Katanya kredit, katanya cuma gaya.
Tapi saat kita berbagi rejeki,
Wajah-wajah itu entah ke mana pergi.
Apa salahku hidup begini?
Kenapa semua mau dicampuri?
Tetangga baik, cuma di cerita,
Di dunia nyata, semua jadi drama.
Mulut berlian, bicara tak sembarang,
Semua diatur, mereka yang pegang.
Jangan khawatir, hidupmu pasti tenang,
Asal mereka puas, oh, kita diam.
Ku hanya tertawa, oh, ku biarkan saja,
Hidupku bahagia, itu yang utama.
Kalau mereka julid, ya biarkan saja,
Karena mulut tajam takkan bawa bahagia.
Mulut berlian, bicara tak sembarang,
Semua diatur, mereka yang pegang.
Jangan khawatir, hidupmu pasti tenang,
Asal mereka puas, oh, kita diam.
Tetangga julid, kuucap terima kasih,
Kamu hiburan di saat sunyi.
Tapi maaf ya, aku takkan berhenti,
Hidupku maju, biar kalian iri!