(Bait 1)

Di negeri bayang-bayang, senyum berhias dusta

Istana megah berdiri, di atas air mata

Fondasi rapuh, tersembunyi di balik tawa

Kekayaan mengalir, ke kantong para pemuja dunia

(Bait 2)

Jaring laba-laba emas, terentang tak terlihat

Menjerat keadilan, dalam sunyi yang pekat

Janji-janji manis, bagai angin berhembus cepat

Menyisakan kehampaan, di hati rakyat yang penat

(Bait 3)

Lidah-lidah berputar, kata-kata bersayap

Menyembunyikan fakta, di balik retorika senyap

Pencuri berdasi, berteriak paling keras

Menuduh yang lemah, dalam sandiwara berdarah

(Bait 4)

Namun asa tetap menyala, di jiwa yang terluka

Bisikan kebenaran, bersemi di antara duka

Matahari kan terbit, menghapus gelap gulita

Menyingkap topeng palsu, di wajah para pendusta

(Bait 5)

Suara rakyat menggema, mengguncang isi istana

Menuntut keadilan nyata, perjuangan melawan adidaya

Tangan-tangan bersatu, menggenggam obor penuh haru

Menyalakan api revolusi, menggapai kemenangan tanpa halu

(Bait 6)

Benih kebenaran, tumbuh subur di hati kami

Menjadi pohon rindang, menaungi seluruh negeri

Akarnya merambat ke dalam, mengusik para pembenar fiktif

Seolah pelopor tatanan baru, padahal manipulatif

(Bait 7)

Hati lelah menanti, janji yang tak kunjung nyata

Mimpi indah sirna, terhempas badai nestapa

Tak ada harapan, hanya kepedihan yang mendera

Dalam kegelapan fana, jiwa merintih menderita