waktu itu jam sepuluh malam lebih delapan di persimpangan sudut ujung taman dirimu menangis di pojokan sendirian gadis wajah ayu yang menawan aku mencoba menghiburmu dari tangis menjadi tawa sendu dan akhirnya aku mengenalmu kita akhirnya berjanjian, dan akan bertemu kembali di tempat itu waktu kemudian berlalu aku kembali di tempat itu tempat kita berjanji saat itu aku di sini untukmu menunggumu dalam hujan seharian di persimpangan sudut ujung taman tempat pertama kita berkenalan (sang gadis wajah menawan) hujan seolah tidak ada tanda reda begitu pula tanda dirimu ada apakah ini adalah tanda setia atau hanya bodoh semata waktu berlalu lebih dari sepekan tiap hari aku menanti di ujung taman pekan berganti dengan bulan bayangmupun tak terlihat di hadapan waktu kemudian berlalu aku kembali di tempat itu tempat kita berjanji saat itu aku di sini untukmu menunggumu dalam hujan seharian di persimpangan sudut ujung taman tempat pertama kita berkenalan (sang gadis wajah menawan) aku takut dirimu kenapa kenapa bukan lupa janji kita tapi emang tidak bisa (untuk menemuiku di sana) waktu kemudian berlalu aku kembali di tempat itu tempat kita berjanji saat itu aku di sini untukmu menunggumu dalam hujan seharian di persimpangan sudut ujung taman tempat pertama kita berkenalan (sang gadis wajah menawan) menunggumu dalam hujan seharian di persimpangan sudut ujung taman tempat pertama kita berkenalan (sang gadis wajah menawan) hujan seolah tidak ada tanda reda begitu pula tanda dirimu ada apakah ini adalah tanda setia atau hanya bodoh semata