Intro: (Ba-da-ba-ba...) (Tok tok tok, debat dimulai!) Verse 1: Di layar kaca, mereka beradu kata, Katanya demi rakyat, tapi kok penuh drama? Tiap argumen terasa seperti perang, Mulut bergerak cepat, otak kayak hilang. Satu bicara soal janji masa depan, Yang lain bilang, \"Itu cuma bualan!\" Sorak penonton, suasana memanas, Tiba-tiba meja terbang, situasi jadi keras. Chorus: Oh, panggung debat, tempat penuh lawakan, Dari kata-kata sampai adu kekuatan. Oh, debat di TV, isinya cuma aksi, Skripnya tak masuk akal, tapi kok bikin happy? Verse 2: Waktu tinggal lima menit, mereka makin gila, Yang satu teriak, yang lain balas drama. Presenter coba tahan, \"Tolong, santai, Pak!\" Tapi malah mikrofon melayang ke arah telapak. Penonton di rumah sudah malas tertawa, \"Mau jadi pemimpin, kok begini gayanya?\" Lupa soal visi, lupa soal rakyat, Yang penting menang, biar masuk headline cepat. Chorus (ulang): Oh, panggung debat, tempat penuh lawakan, Dari kata-kata sampai adu kekuatan. Oh, debat di TV, isinya cuma aksi, Skripnya tak masuk akal, tapi kok bikin happy? Bridge: Rakyat cuma bisa tepuk jidat, Melihat wakilnya jadi badut debat. Bukannya diskusi untuk cari solusi, Malah sibuk hancurkan reputasi sendiri. Breakdown: \"Pak, kursinya jatuh, tolong diangkat!\" \"Enggak, kursi itu saya lempar, biar dia ingat!\" Final Chorus: Oh, panggung debat, tempat penuh lawakan, Dari kata-kata sampai adu kekuatan. Oh, debat di TV, tak ada ujung cerita, Rakyat tertawa, tapi dalam hati kecewa. Outro: (Ba-da-ba-ba...) \"Pak, tenang, ini cuma debat, bukan laga UFC!\" (Ba-da-ba-ba...) Layar mati, rakyat siap pilih siapa lagi?