Di tanah yang katanya demokrasi, Ada cerita unik, penuh ironi. Tentang kursi yang berpindah-pindah, Bukan karena rakyat, tapi darah. Katanya pemimpin harus dipilih, Tapi entah kenapa rasanya mirip terpilih. Dari ayah, ke anak, ke entah siapa, Kursi itu seolah hanya untuk keluarga. \"Hanya kebetulan,\" katanya bersahaja, Tapi rakyat geleng kepala dengan senyum pasrah. Mereka bilang ini meritokrasi, Padahal silsilah lebih jadi aksi. Ada yang mengeluh, ada yang diam, Ada yang tertawa, menahan geram. \"Ini warisan budaya,\" katanya riang, Tapi di balik tawa, ada rakyat yang bimbang. Pidato-pidato penuh janji indah, Tapi arahnya sering terlihat mudah. Bukan soal visi atau misi besar, Tapi siapa nama di pohon silsilah yang benar. Kita pun menonton bak sebuah opera, Politik menjadi drama keluarga. Kursi-kursi berganti tapi tak benar-benar jauh, Tetap di lingkaran itu, tetap di pohon yang teguh. Dan saat rakyat bertanya, \"Apakah ini adil?\" Jawabnya mengalir, penuh senyum yang licin dan lincir. \"Ini demokrasi, kalian yang memilih, Jika hasilnya sama, apa salahnya sedikit silsilah?\" Namun waktu kan berjalan, roda terus berputar, Rakyat menyimpan catatan, tak semuanya terlantar. Sebuah harapan kecil, meski samar-samar, Bahwa kursi suatu saat bukan lagi soal siapa yang diwariskan, Tapi siapa yang benar-benar pantas memimpin di depan.