[Verse 1 Dari rahim ibu pertiwi, asal mula cahaya, Sanghyang yang abadi, di relung semesta maya. Dewa tak bernama, kekal tanpa rupa, Tapi energinya membakar, jiwa yang terlupa. Api di langit, hujan di bumi, Mantra suci bergaung di hati yang sunyi. Dalam setiap nafas, hidup dan mati, Sanghyang berbicara lewat harmoni sakti. [Pre-Chorus Dengarkan! Alam berbisik pada jiwa, Energi kosmik yang melampaui raga. Kau bisa menyangkal, tapi tak bisa lari, Dari Sanghyang yang menuntun abadi. [Chorus Sanghyang, suaranya bergema, Di setiap sudut jagad raya. Sanghyang, kekuatan abadi, Yang menjaga harmoni dalam tragedi. [Verse 2 Gunung berdiri, saksi bisu kejayaan, Sungai mengalir, cerita hidup yang berjalan. Sanghyang di balik bayang, di balik hujan, Mengajarkan manusia tentang keselarasan. Bukan sekadar kata, tapi energi murni, Yang merajut semesta dalam simpul surgawi. Tarian dedari, mantra mengudara, Menghubungkan jiwa dengan alam yang maha. [Pre-Chorus Dengarkan! Alam berbisik pada jiwa, Energi kosmik yang melampaui raga. Kau bisa menyangkal, tapi tak bisa lari, Dari Sanghyang yang menuntun abadi. [Chorus Sanghyang, suaranya bergema, Di setiap sudut jagad raya. Sanghyang, kekuatan abadi, Yang menjaga harmoni dalam tragedi. “Dengarlah suara dari kedalaman jiwa! Sanghyang memanggil, bangkit dari fana!” [Bridge Petir menyambar, tapi tak menghancurkan, Hanya membangunkan yang telah tertidur dalam. Kau lihat cahaya? Itu bukan ilusi, Sanghyang hadir dalam setiap dimensi. [Chorus Sanghyang, suaranya bergema, Di setiap sudut jagad raya. Sanghyang, kekuatan abadi, Yang menjaga harmoni dalam tragedi. [Outro Dari Bali hingga Jawa, nusantara bersaksi, Kekuatan Sanghyang, tak lekang dimakan hari. Dalam gelap malam atau terang pagi, Sanghyang tetap hadir, menjaga abadi.