Di balik kaca yang retak, terlukis bayang rapuh penuh sesak, jiwa yang dulu bercahaya terang, kini redup, hilang arah dalam gelap. Bekas luka menari di tiap sudut hati, jejak perih menggores tanpa henti, dosa-dosa berbisik dalam kelam, mengiring langkah dalam keheningan malam. Dunia tak lagi menjanjikan pelipur, hanya cermin penyesalan yang mengusik tidur, jiwa ini menangis, namun tak terdengar, tertimbun beban, tertinggal dalam ingkar. Namun dalam gulita, ada harapan yang lirih, bisikan maaf, sejuk seperti embun gigih, Tuhan, mampukah Engkau menghapus noda, mengangkat jiwa yang lelah dan terluka? Dengan air mata sebagai doa, jiwa ini berserah tanpa daya, mencari cahaya di ujung jalan, meski ternoda, ingin kembali pada kebaikan.