Yo, yo, gak semua yang dekat itu nyata, Kadang senyuman itu cuma pura-pura. Kita berbagi cerita, berbagi tawa, Tapi di balik itu ada rencana berbahaya. Dulu kau datang dengan wajah penuh simpati, Ngaku teman sejati, ngaku mau berbagi. Tapi pelan-pelan topeng mulai retak, Aku lihat niat busuk di balik matamu yang gelap. Kau bilang saudara, tapi tikam dari belakang, Main api kecil, coba bikin aku hilang. Aku masih di sini, berdiri kuat sendiri, Karena tahu musuh terburuk kadang lebih dekat dari diri. Musuh dalam selimut, ku tak buta lagi, Senyum manismu hanyalah ilusi. Kau pikir aku jatuh? Kau pikir aku kalah? Sekarang ku lawan, kebenaran ku ungkap semua. Musuh dalam selimut, kau gak bisa sembunyi, Aku tahu semua permainanmu kini. Tak ada tempat untuk pengkhianatan, Ini waktunya kau rasakan balasan. Kau pikir aku gak tahu gerakanmu di belakang, Tapi setiap langkahmu, ku dengar suara bayang. Berlagak baik, ngomong soal persatuan, Tapi hatimu penuh dengan kebencian. Kau lupa, dunia ini punya karma, Apa yang kau tanam, pasti tumbuh pada waktunya. Aku tetap maju, tak peduli omongan, Kebenaran menang, kau yang akan tenggelam. Kau buka pintu, tapi kau siapkan jebakan, Aku tetap hidup walau di bawah tekanan. Sekarang waktuku berdiri lebih tinggi, Lihat aku sukses, sementara kau iri. Musuh dalam selimut, ku tak buta lagi, Senyum manismu hanyalah ilusi. Kau pikir aku jatuh? Kau pikir aku kalah? Sekarang ku lawan, kebenaran ku ungkap semua. Musuh dalam selimut, kau gak bisa sembunyi, Aku tahu semua permainanmu kini. Tak ada tempat untuk pengkhianatan, Ini waktunya kau rasakan balasan. Aku belajar, dunia ini penuh warna, Bukan semua teman itu benar-benar saudara. Tapi ku tetap maju, ku tetap berdiri, Musuh dalam selimut, takkan menang kali ini. Yo, musuh dalam selimut… Game over, aku yang bangkit.