Di senja yang merintik pelan, bayangmu hadir dalam ingatan. Seperti angin yang tak tersentuh, namun dinginnya masih terasa. Kita pernah melukis cerita, dengan tinta rindu di dada. Namun waktu menghapus warna, menyisakan abu yang membisu. Kini kau hanyalah puisi, terbaca namun tak tergenggam lagi. Bagai bintang jatuh ke bumi, indah, tapi tak bisa kumiliki. Kau pergi membawa sebagian hatiku, tersesat di lorong kenangan semu. Aku mencoba melupakan namamu, namun gema itu tetap memburu. Jika takdir membawa kita berjumpa, cukup tatap, tanpa kata. Karena luka yang telah sembuh, tak perlu diungkit oleh rindu semu. Maka biarlah kau jadi lagu, dinyanyikan angin dalam pilu. Tak harus kembali, tak harus pergi, cukup abadi di hati sunyi.